Sejarah
Menurut mitos masyarakat setempat,Raja Ampat ini berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang berpisah dan masing-masing menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat. Sedangkan 3 butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan sebuah batu.
Dalam catatan sejarah , kawasan Raja Ampat ini sudah lama ditempati oleh masyarakat bangsawan dan menerapkan sistem adat Maluku. Dalam sistem ini, masyarakat skumpulan manusia. Tiap desa dipimpin oleh seorang raja. Semenjak berdirinya lima kesultanan muslim di Maluku, Raja Ampat menjadi bagian klaim dari Kesultanan Tidore. Setelah Kesultanan Tidore takluk dari Belanda, Kepulauan Raja Ampat menjadi bagian klaim Hindia-Belanda.
Jika anda berminat dilain waktu untuk berwisata ke Raja Ampat ini anda langsung bisa menuju Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, Papua Barat dari bandara yang ada dikota anda. Bagi pendududk jakarta,penerbangan dari Jakarta menuju Sorong biasanya transit terlebih dahulu di Makassar atau Manado. Dari Bandara Domine Eduard Osok, perjalanan dilanjutkan lagi menuju Raja Ampat menggunakan kapal cepat berkapasitas 10 orang dengan biaya sekitar 3,2 juta rupiah sekali jalan.
Tidak ada tiket khusus untuk memasuki objek wisata ini. Yang diperlukan adalah ongkos untuk menyewa kapal motor, peralatan menyelam, dan instruktur berkisar antara ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah dalam sekali penyelaman. Proses menyelam biasanya dilakukan berkali-kali untuk menikmati titik-titik penyelaman yang berbeda-beda. Maka dari itu, para penyelam dianjurkan berkelompok untuk menekan jumlah pengeluaran yang relatif mahal.